KOORDINASI
Makalah
Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pengantar
Manajemen pendidikan
![]() |
Dosen
:
Prof.
Dr. Mukhneri Mukhtar, M.Pd.
Dede
Hamdani, M.Pd
Disusun
Oleh :
Rifqi
Pradana Pangestu (1445142035)
Nurul
Suci Fazria (144514)
Nuzlah
Aulia (1445140088)
Dania
Eva Sabrina (1445143158)
MANAJEMEN
PENDIDIKAN
PROGRAM
STRATA 1
UNIVERSITAS
NEGERI JAKARTA
2014
Kata Pengantar
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang hingga saat ini
masih berkenan memberikan kepercayaan-Nya kepada kita semua untuk menikmati
segala karunia-Nya dan hanya berkat rahmat-Nya kami bisa menyelesaikan makalah
ini. Makalah ini diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Manajemen
Pendidikan. Makalah ini berisi tentang menjelaskan konsep dasar Koordinasi seperti
pengertian koordinasi, macam-macam koordinasi, prinsip-prinsip koordinasi, dan
jenis-jenis koordinasi.
Dalam pelaksanaan makalah
ini, penulis telah mendapat banyak bantuan dari berbagai pihak, baik bantuan
yang berupa materi maupun bantuan dukungan moril.
Penulis menyadari selama
menulis makalah ini banyak pihak yang telah membantu, oleh karena itu pada
kesempatan kali ini penulis ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada :
1.
Kedua orang tua yang telah mendidik serta
membantu penulis sampai saat ini.
2.
Prof. Dr. Mukhneri Mukhtar, M.Pd selaku dosen
mata kuliah manajemen lingkungan hidup yang selalu memberikan materi serta motivasi
kepada kami.
3.
Dan juga kepada Dede
Hamdani, M.Pd selaku asisten dari Prof. Dr. Mukhneri Mukhtar, M.Pd yang selalu
rela serta ikhlas membimbing kami di mata kuliah pengantar manajemen pendidikan
ini
4.
Teman-teman manajemen
pendidikan 2014 yang selalu membantu memberikan saran dan kritik dalam
pembuatan makalah ini
Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih belum sempurna dan
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu segala kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan untuk di masa yang akan datang agar karya ilmiah ini menjadi lebih baik lagi.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.
Jakarta, 13 September 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
COVER
1
KATA PENGANTAR
2
DAFTAR
ISI
3
BAB
1 PENDAHULUAN
4
A.
LATAR BELAKANG MASALAH
4
B.
RUMUSAN MASALAH
6
C. TUJUAN PEMBAHASAN
6
BAB
2 PEMBAHASAN
7
A. DEFINISI KONSEPTUAL
7
B. PENELITIAN RELEVAN
8
C. PEMBAHASAN
9
a. PENGERTIAN KOORDINASI
9
b. MACAM-MACAM KOORDINASI
12
c. PRINSIP-PRINSIP KOORDINASI
13
d. JENIS-JENIS KOORDINASI
14
BAB
3 PENUTUP
17
A. KESIMPULAN
17
B. SARAN
17
DAFTAR
PUSTAKA
19
BAB 1
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang Masalah
Manajemen adalah suatu seni
atau cara untuk menyelesaikan permasalahan dengan berkerja sama melalui orang
lain atau sumberdaya lainnya. Sebagai suatu proses, manajemen memerlukan
berbagai aspek pendukung untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan atau tujuan-tujuannya.
Diantara bermacam cara melakukan manajerial, salah satu aspek penting yang menjadi cara untuk
berlangsungnya sebuah proses manajemen yaitu melakukan koordinasi.
Koordinasi sebagai aspek
penting manajemen, memerlukan sebuah sumberdaya manusia, yang didalamnya
terdapat pola pikir untuk memecahkan suatu masalah. Oleh karena itu,
diperlukannya hal-hal yang berkaitan dengan pembelajaran, guna untuk mengetahui
lebih jelas dan lebih dalam apa yang dimaksud dengan koordinasi sebagai suatu
aspek penting dalam manajerial untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan
yang ada.
Dalam hal ini,
kami mengaitkan permasalahan didalam rapat koordinasi antara unsur muspida dalam rangka menciptakan Sitkamtib
(Sistem Keamanan Ketertiban Masyarakat ) sehubungan dengan pelaksanaan Operasi
Ketupat 2013 menjelang lebaran.
Saat berlangsungnya rapat koordinasi diruang pola pertemuan Polres Takalar, Senin 22 Juli 2013 kemarin, nampak hadir empat unsur kepala SKPD yang menyempatkan mengikutii rapat. Apalagi hasil pertemuan rapat koordinasi tersebut bersifat penting. Mereka yang hadir adalah Kepala Dinas Kesehatan Dr Rasyidin, Kadis sosial H Abbas Tola, Kepala Kesbang Aspar Nur, dan Kepala Dinas PU, sementara camat yang hadir adalah Camat Sanro Bone dan Pattallassang. Ketidakhadiran sebagian SKPD dan camat karena Bupati Takalar sendiri tidak hadir pada rapat koordinasi yang diprakarsai oleh pihak jajaran Polres Takalar tersebut. "Bukan hanya itu kalau saat Bupati tidak ada di Pemkab, para staf dan pejabat terkait dalam keadaan lengang," sindir komandan Kodim 1426 Takalar dihadapan para peserta Rakor. "Jabatan itu adalah sebuah amanah yang perlu kita pertangungjawabkan ke publik. Jangan nanti ada Pak Bupati Takalar baru ramai datang rapat, kalau bupatinya tidak hadir pada malas mengikuti rapat," tegas Letkol Inf Andi Muh Ali dengan nada kesal.
Saat berlangsungnya rapat koordinasi diruang pola pertemuan Polres Takalar, Senin 22 Juli 2013 kemarin, nampak hadir empat unsur kepala SKPD yang menyempatkan mengikutii rapat. Apalagi hasil pertemuan rapat koordinasi tersebut bersifat penting. Mereka yang hadir adalah Kepala Dinas Kesehatan Dr Rasyidin, Kadis sosial H Abbas Tola, Kepala Kesbang Aspar Nur, dan Kepala Dinas PU, sementara camat yang hadir adalah Camat Sanro Bone dan Pattallassang. Ketidakhadiran sebagian SKPD dan camat karena Bupati Takalar sendiri tidak hadir pada rapat koordinasi yang diprakarsai oleh pihak jajaran Polres Takalar tersebut. "Bukan hanya itu kalau saat Bupati tidak ada di Pemkab, para staf dan pejabat terkait dalam keadaan lengang," sindir komandan Kodim 1426 Takalar dihadapan para peserta Rakor. "Jabatan itu adalah sebuah amanah yang perlu kita pertangungjawabkan ke publik. Jangan nanti ada Pak Bupati Takalar baru ramai datang rapat, kalau bupatinya tidak hadir pada malas mengikuti rapat," tegas Letkol Inf Andi Muh Ali dengan nada kesal.
Pada pernyataan Letkol Inf Andi Muh
Ali terhadap bupati yang tidak hadir didalam rapat koordinasi diatas. Jelas
sekali jika salah satu lini didalam sebuah organisasi tidak dapat mengemban
amanah dan tanggung jawab dengan baik, maka tujuan didalam sebuah organisasi
itu akan tidak berjalan dengan baik, maka dari itu sebuah organisasi sangat
memerlukan koordinasi untuk dapat mengomunikasikan kepada bawahan-bawahannya.
Sehingga tercipta komando-komando serta kegiatan-kegiatan yang terstruktur.
Maka dari itu, sehubung dengan
masalah diatas. Kami tertarik untuk membahas aspek koordinasi didalam sebuah
organisasi yang merupakan titik pusat komunikasi dan wewenang-wewenang dari
atasan kepada bawahan untuk melaksanakan tugasnya. Sehingga organisasi tersebut
berjalan dengan baik.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian diatas
dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apa
pengertian dari koordinasi?
2. Apa
definisi para ahli tentang koordinasi?
3. Apa
saja macam-macam koordinasi?
4. Bagaimana
prinsip-prinsip dari koordinasi?
5. Apa
saja jenis-jenis koordinasi?
C.
Tujuan
Pembahasan
·
Diharapkan mahasiswa
mengerti apa yang dimaksud dengan koordinasi.
·
Diharapkan mahasiswa lebih
aktif dalam berorganisasi, dan mempunyai dasar dari manajemen dalam aspek
koordinasi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Definisi
Konseptual
“Coordination
is the process of integrating the objectives and activites of the separate
units ( department or functional areas ) of an organization in order to achieve
organizational goals efficiently”[1]. koordinasi adalah proses
menyatupadukan tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan dari unit-unit (
bagian-bagian atau bidang-bidang fungsional ) suatu organisasi yang terpisah
untuk mencapai sasaran-sasaran organisasi secara efisien.
“Coordination is the process
of linking the activities of the farious department of the organization”[2]. koordinasi adalah suatu
proses menghubungkan kegiatan-kegiatan dari bermacam-macam bagian organisasi.
“Koordinasi
adalah pengaturan tata hubungan dari usaha bersama untuk memperoleh kesatuan
tindakan dalam usaha pencapaian tujuan bersama pula. Koordinasi adalah suatu
proses yang mengatur agar pembagian kerja dari berbagai orang atau kelompok
dapat tersusun menjadi suatu kebutuhan yang terintegrasi dengan cara seefesien
mungkin”[3].
Dari definisi-definisi menurut para ahli diatas, kami
dapat menarik kesimpulan bahwa. Koordinasi adalah suatu proses yang mengatur
kegiatan-kegiatan didalam sebuah organisasi dengan mempekerjakan unit-unit
fungsional untuk mencapai suatu tujuan didalam organisasi tersebut untuk
mendapatkan hasil yang baik sesuai sasaran-sasaran yang telah ditentukan.
B.
Penelitian
yang Relevan
“Coordination (and the
communication it implies) is central to the very existence of organizations. Theories of
the firm are variously rooted in the coordination benefits of hierarchical control”[4]. Koordinasi
(dan komunikasi itu
berarti) merupakan pusat keberadaan
organisasi. Teori perusahaan yang beragam berakar pada manfaat koordinasi kontrol hirarkis”
organisasi. Teori perusahaan yang beragam berakar pada manfaat koordinasi kontrol hirarkis”
Point besar mengenai pengertian Koordinasi yang kami
cari dari Jurnal internasional diatas merupakan sebuah aspek yang sangat fital
bagi sebuah organisasi. Koordinasi merupakan sebuah titik pusat untuk
berkomunikasi dan mengontrol setiap pekerjaan didalam sebuah organisasi.
Mengapa demikian? Karena didalam sebuah organisasi membutuhkan komunikasi
antara lini atas sampai ke lini bawah. Jika 1 aspek penting ini tidak ada
didalam sebuah organisasi, maka pekerjaan-pekerjaan didalam 1 organisasi
tersebut akan tidak berjalan dengan baik. Sehingga, tujuan didalam organisasi
tersebut tidak akan di raih secara maksimal. Itulah tujuan dan manfaat dari
sebuah koordinasi yang didalamnya tersisipkan sebuah komunikasi antar sesama
lini.
C.
Pembahasan
a.
Pengertian
Koordinasi
Koordinasi
berasal dari kata coordination, co dan ordinare yang
berarti to regulate. Dari pendekatan empirik yang dikaitkan dengan
etimologi, koordinasi diartikan sebagai kegiatan yang dilakukan oleh berbagai
pihak yang sederajat (equal in rank or order, of the same rank or order, not
subordinate) untuk saling memberi informasi dan mengatur (menyepakati) hal
tertentu[5].
Secara
normatif, koordinasi diartikan sebagai kewenangan untuk menggerakkan,
menyerasikan, menyelaraskan, dan menyeimbangkan kegiatan-kegiatan yang spesifik
atau berbeda-beda agar semuanya terarah pada tujuan tertentu. Sedangngkan
secara fungsional, koordinasi dilakukan guna untuk mengurangi dampak negatif
spesialisasi dan mengefektifkan pembagian kerja5.
Koordinasi
dapat didefinisikan sebagai proses penyepakatan bersama secara mengikat
berbagai kegiatan atau unsur yang berbeda-beda sedemikian rupa sehingga di sisi
yang satu semua kegiatan atau unsur itu terarah pada pencapaian suatu tujuan
yang telah ditetapkan dan di sisi lain keberhasilan yang satu tidak merusak
keberhasilan yang lain[6].
Koordinasi
menurut Awaluddin Djamin dalam Hasibuan (2011:86) diartikan sebagai suatu usaha
kerja sama antara badan, instansi, unit dalam pelaksanaan tugas-tugas tertentu,
sehingga terdapat saling mengisi, saling membantu dan saling melengkapi. Dengan
demikian koordinasi dapat diartikan sebagai suatu usaha yang mampu
menyelaraskan pelaksanaan tugas maupun kegiatan dalam suatu organisasi.
Koordinasi
dan hubungan kerja adalah dua pengertian yang saling berhubungan karena
koordinasi hanya dapat tercapai sebaik-baiknya dengan melakukan hubungan kerja
yang efektif. Hubungan kerja adalah bentuk administrasi yang membantu
tercapainya koordinasi. Oleh karena itu dikatakan bahwa hasil akhir daripada
komunikasi (hubungan kerja) adalah tercapainya koordinasi dengan cara yang
berhasil guna dan berdaya guna (efektif dan efisien). Koordinasi dimaksudkan
sebagai usaha menyatukan kegiatan-kegiatan dari satuan-satuan kerja (unit-unit)
organisasi, sehingga organisasi bergerak sebagai kesatuan yang bulat guna
melaksanakan seluruh tugas organisasi untuk mencapai tujuannya.
Berdasarkan
pendapat ahli di atas dapat disimpulkan bahwa kordinasi adalah proses
kesepakatan bersama secara mengikat berbagai kegiatan atau unsur (yang terlihat
dalam proses) pemerintahan yang berbeda-beda pada dimensi waktu, tempat,
komponen, fungsi dan kepentingan antar pemerintah yang diperintah, sehingga
disatu sisi semua kegiatan dikedua belah pihak terarah pada tujuan pemerintahan
yang ditetapkan bersama dan disisi lain keberhasilan pihak yang satu tidak dirusak
keberhasilan pihak yang lain.
b. Macam-Macam Koordinasi
Koordinasi
dapat dibedakan menjadi :
1.
Koordinasi hierarkis
(vertikal), yang dilakukan oleh pejabat pimpinan dalam suatu instasi terhadap
pejabat atau instansi dibawahnya.
2.
Koordinasi fungsional, yang dilakukan oleh
pejabat atau suatu instansi terhadap pejabat atau instansi lainnya yang
tugasnya saling berkaitan berdasarkan asas-asas fungsional. Koordinasi ini
dapat dibedakan atas koordinasi fungsional horizontal, diagonal, dan teritorial.
a. Koordinasi
fungsional horizontal dilakukan oleh seorang
atau suatu instansi lain yang setingkat. Koordinasi fungsional horizontal
dilakukan oleh pejabat atau instansi terhadap pejabat atau instansi lain yang
lebih rendah tingkatannya tetapi bukan bawahannya.
b. Koordinasi
fungsional teritorial dilakukan oleh seorang pejabat atau instansi terhadap
pejabat atau instansi lainnya yang berada didalam suatu wilayah tertentu dimana
semua urusan yang ada dalam wilayah tersebut menjadi tanggung jawabnya.
c.
Prinsip-Prinsip
Koordinasi
Prinsip koordinasi disingkat
menjadi KOORDINASI.
1. Kesamaan
Sama
dalam visi, misi, dan langkah-langkah untuk mencapai tujuan bersama (sense of
purpose).
2. Orientasikan
Titik
pusatnya pada sekolah (sebagai kordinator) yang simpul-simpulnya stakeholder
sekolah.
3. Organisasikan
Atur
orang-orang yang berkoordinasi untuk membina sekolah, yaitu harus berada dalam
satu payung (terorganisasi) sehingga sikap egosektoral dapat dihindari.
4. Rumuskan
Menyatakan
secara jelas wewenang, tanggung jawab, dan tugas masing-masing agar tidak
tumpang-tindih.
5. Diskusikan
Mencari
cara yang efektif, efesien, dan komunikatif dalam berkoordinasi.
6. Informasikan
Semua
hasil diskusi dan keputusan mengalir cepat kesemua pihak yang ada dalam sistem
jaringan koordinasi (coordination network system).
7. Negosiasikan
Dalam
perundingan mencari kesepakatan harus saling menghormati (team spirit) dan
usahakan menang-menang, jangan sampai pihak sekolah sebagai koordinator justru
dirugikan.
8. Atur
jadwal
Rencana
koordinasi harus dipatuhi dengan sebaik-baiknya oleh semua pihak.
9. Solusikan
Satu
masalah dalam simpul jaringan harus dirasakan dan dipecahkan semua stakeholders
dengan sebaik-baiknya.
10. Insafkan
Setiap
stakeholders harus memiliki laporan tertulis yang lengkap dan siap menginformasikannya
sesuai kebutuhan koordinasi.
d.
Jenis-Jenis
Koordinasi
1. Koordinasi
Vertikal
Koordinasi
vertikal ialah koordinasi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah kepada atasannya
dan kepada bawahannya. Misalnya, koordinasi Kepala Sekolah dengan Kepala Dinas Pendidikan
dan atau bawahannya.
2. Koordinasi
Fungsional
Koordinasi
Fungsional ialah koordinasi yang dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan Kepala
Sekolah lainnya yang tugasnya saling berkaitan berdasarkan asas fungsionalisasi.
Koordinasi Fungsional dibedakan atas :
a. Koordinasi
fungsional horizontal, koordinasi ini dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan
Kepala Sekolah lainnya yang setingkat. Misalnya, Kepala SMPN1 dengan Kepala
SMPN2.
b. Koordinasi
fungsional diagonal, koordinasi ini dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan Kepala
Sekolah lain yang lebih rendah atau lebih tinggi tingkatannya. Misalnya, Kepala
SMPN1 dengan Kepala SDN57 atau dengan staffnya.
c. Koordinasi
fungsional teritorial, koordinasi ini dilakukan Kepala Sekolah dengan pejabat
atau Kepala Sekolah lain yang berada dalam wilayah tertentu dimana semua urusan
yang ada dalam wilayah tersebut menjadi kewenangan dan tanggung jawab Kepala
Sekolah bersangkutan selaku penguasa atau penanggung jawab tunggal. Misalnya,
Kepala SMP Percobaa dengan Kepaa-Kepala
SMP Target di Kabupaten X.
3. Koordinasi
Institusional
Koordinasi
ini dilakukan Kepala Sekolah dengan beberapa instansi yang menangani sat urusan
tertentu yang bersangkutan. Misalnya, untuk urusan kepegawaian, Kepala Sekolah
melakukan koordinasi dengan Kepala Badan Kepegawaian Daerah dan Kepala Badan
Diklat Daerah.
BAB 3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Pengertian Koordinasi, bahwa koordinasi
merupakan keselarasan antara kegiatan-kegiatan untuk mencapai tujuan didalam
sebuah organisasi sehingga menciptakan kegiatan yang efiesien, bersinergi, dan
memiliki peluang untuk berhasil.
Menurut penjelasan diatas dapat kami simpulkan bahwa, koordinasi mempunyai peran
penting dalam mencapai tujuan suatu organisasi dan didalamnya terdapat prinsip-prinsip dalam melakukan koordinasi. Jika
koordinasi antar kelompok atau individu baik maka yang akan didapat akan baik
pula. Jika kurang koordinasinya maka hasilnya kurang memuaskan.
B.
Saran
Koordinasi merupakan sebuah aspek penting karena didalamnya terdapat
sebuah komunikasi untuk memberikan wewenang dari atasan kepada bawahan agar
kegiatan-kegiatan didalam organisasi tersebut berjalan dengan baik. Maka dari
itu, diharapkan bagi semua lini, baik lini atas maupun bawah. Lakukanlah
koordinasi atau pemberian wewenang terhadap masing-masing lini dengan baik.
Bagi siapapun yang memiliki jabatan yang strategis diharapkan dapat hadir
diberbagai kegiatan yang penting didalam sebuah organisasi. Karena, rapat
merupakan sebuah kegiatan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan-kegiatan,
agar terstruktur guna mencapai hasil yang baik untuk merealisasikan tujuan dari
organisasi tersebut.
Daftar Pustaka
-
Griffin, R. W. (2011). Fundamentals of
Management Sixth Edition. USA: Cengage Learning.
-
Ndraha, T. (2003). Kybernology 1 : Ilmu
Pemerintahan baru / Taliziduhu Ndraha. Jakarta: Rineka Cipta.
-
Kleinbaum, A. M., Stuart, T. E., &
Tushman, M. L. (2008). Communication (and
Coordination) in a Modern, Complex Organization. Coordination , 3.
-
http://farahsaniyyah.blogspot.com/2013/10/silabus-6.html.
-
www.bppk.depkeu.go.id/.../images/.../koordinasi%20jul%202012.ppt.
-
http://pmpjuned33.blogspot.com/2013/10/jenis-jenis-koordinasi.html.
-
http://studimanajemen.blogspot.com/2013/11/jenis-jenis-fungsi-koordinasi.html.
-
http://syamsuddincoy.blogspot.com/2012/02/normal-0-false-false-false-en-us-x-none.html.
-
http://nuwrileardkhiyari.blogdetik.com/2013/10/06/pengertian-koordinasi/.
[1] James A.F Stoner dan Charles Wankel, “Management Third Edition”, diakses dari http://farahsaniyyah.blogspot.com/2013/10/silabus-6.html pada tanggal 05
Oktober 2014 pukul 16.23.
[2] Griffin, R. W. (2011). Fundamentals of Management Sixth Edition. USA: Cengage Learning.
[3] Sondang P. Siagian,M.P.A,
Ph.D, “Peranan Staf dalam Managemen”, 1978, diakses dari http://farahsaniyyah.blogspot.com/2013/10/silabus-6.html pada tanggal 05 Oktober 2014
pukul 16.23.
[4] Kleinbaum, A. M., Stuart, T. E., &
Tushman, M. L. (2008). Communication (and
Coordination) in a Modern, Complex Organization. Coordination , 3.
[5] Ndraha, T. (2003). Kybernology 1 : Ilmu
Pemerintahan baru / Taliziduhu Ndraha. Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 290.
[6] Ndraha, T. (2003). Kybernology
1 : Ilmu Pemerintahan baru / Taliziduhu Ndraha. Jakarta: Rineka Cipta, hlm. 291.

Komentar
Posting Komentar